Jul 4, 2014

Renungan



Sahabat surgaku: Salah seorang raja menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang tukang kayu yang tidak jelas kesalahannya
apa.Berita tentang keputusan itu bocor kepada si tukang kayu
sebelum pengumuman resmi keluar. Akibatnya ia tidak bisa
memejamkan mata untuk tidur di malam itu.Istrinya menasehati:
“Tidurlah di malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Alloh
itu hanya satu sementara pintu
keluar dari suatu masalah sangat
banyak”.Kalimat yang
menentramkan itu tepat masuk ke
dalam hatinya, hingga ia bisa menenangkan diri, dan ia pun
bisa tidur di malam itu.

Dia baru terbangun di pagi hari ketika pintu rumahnya diketuk oleh
beberapa orang prajurit.Wajahnya langsung menjadi pucat. Dia melihat kepada istrinya dengan
pandangan putus asa, menyesal, dan sedih karena telah
mempercayai kata-katanya semalam.

Dia membuka pintu
dengan kedua tangan menggigil. Dia ulurkan tangannya ke arah pengawal supaya diikat.

Para pengawal yang datang itu berkata
kepadanya penuh keheranan:
“Raja sudah wafat, kami meminta kamu untuk membuatkan sebuah peti mati untuk baginda”.Waktu itu juga wajahnya berubah
menjadi ceria.

Kemudian ia melemparkan pandangan tanda
mohon maaf ke arah istrinya.Istrinya tersenyum.

Karena itu
kadangkala seorang hamba sampai letih karena berfikir,
sementara Alloh yang memiliki semua rencana dan aturan.

Siapa yang merasa hebat karena
jabatan, hendaklah ia mengingat Fir’aun.Siapa yang merasa hebat karena harta, hendaklah ia
mengingat Qarun.Siapa yang merasa hebat karena keturunan,
hendaklah ia mengingat Abu
Lahab.

Kehebatan, kekuasaan dan kemuliaan hanya milik Alloh satu-
satunya.

Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia
cabut dari siapa yang Dia kehendaki juga.

Jangan hukum
masa depanmu dengan kondisi hari ini, Alloh Maha Kuasa
merubahnya dalam waktu sekejap.

Tugas kita hanya berusaha dan terus berdo’a.

Copy dr: ustadz
Doddy

Jul 3, 2014

Copas dari Telegram Dosen UGM:

Siang ini seperti biasa saya berada di kantor. Sedikit bercerita, saya adalah staff magang di pusat informasi dan humas Universitas Airlangga. Masih sama dengan hari lain, tugas kami disini salah satunya adalah menerima tamu. Tepat pukul 11 siang, pintu kantor diketuk. Saya dan staff lain mempersilakan tamu ini untuk masuk dan duduk. sebelum sempat kami selesai mempersilakan duduk, si Tamu bertanya, "Pak, Bu, ini bener kampus C Unair Mulyorejo?". dengan ramah kami meng-iyakan. Namun sekali lagi beliau bertanya pertanyaan serupa. Dengan heran kami kembali meng-iyakan. Namun terkejutnya kami ketika si Tamu berteriak girang, "horeee!! saya lulus!". Lalu si Tamu bercerita bahwa dia adalah siswa SLB, usianya 34 tahun namun kemampuan otaknya setara dengan anak usia 13 tahun. Namanya Aput, dia dari Wonosari, Yogjakarta. Tujuannya kesini adalah untuk ujian. Ujian?

Awalnya kami heran. Namun ternyata Aput sedang menjalankan ujian pencarian alamat. Bayangkan dengan kapasitas otaknya yang setara 13 tahun, ia menuju Surabaya, kota sebesar ini sendirian (ingat, dia dari Yogjakarta, 10 jam dari Surabaya). Ia hafal benar ia harus naik bus Eka sampai Bungur Asih dan 2 kali naik angkutan umum untuk sampai ke Kampus kami. Belum selesai disana, ketika kami menawarkan minum, ia menolak dengan alasan ia dilarang untuk meminta minta. Keukeuhnya prinsip tidak meminta minta ini sampai memaksa kami mencari alasan lain agar ia menerima air minum itu (ia tampak sangat lelah dan kehausan). Kami berdalih bahwa air minum itu adalah hadiah karena dia sudah lulus ujian (bisa menemukan alamat adalah ukuran kelulusannya). Disela perbincangan kami ia bercerita bahwa di sekolahnya ia belajar baca tulis, ketrampilan, dan agama. Ia menyebutkan ada dua agama disana yang pertama adalah agama Allahuakbar (red. Islam) dan pak Yesus (red. Kristen/Katolik). kebetulan ia beragama Allahuakbar tuturnya.

 Lama berbincang, ia teringat bahwa hari ini adalah hari Jumat. Ia membacakan (dia hafal, tanpa teks) surat Al-Jumu'ah bagi kami. Suaranya merdu dan bacaaannya benar, dia juga hafal dengan baik. Saya dan rekan kerja saya sampai luluh dan menangis. Dia juga memberi tahu kami bahwa ada aturan yang harus ditaati selama ujian ini. Pertama adalah boleh bertanya, namun tidak boleh diantar. Kedua adalah tidak boleh naik kendaraan yang bersifat mengantar seperti taxi dan becak. Ketiga, tidak boleh meminta - minta. dan masih banyak aturan lain yang mengoyak nurani saya. Saya jadi berfikir, sudahkah kita memiliki moral sebaik tamu Tuna Grahita ini? Bahkan dia mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya. Sedangkan kita? Ada satu celetukan polos yang ia tanyakan pada kami. Ia bertanya, berapa banyak ayam yang harus dijual untuk pergi ke Mekah? Untuk ke Surabaya saja ia harus menjual ayam 3 ekor. Ia ingin ke mekah karena sudah bisa mengaji. Dari tamu ini saya belajar banyak tentang makna hidup, kejujuran, bagaimana berjuang dan terus memotivasi diri sendiri. Dia berkata bahwa dia dilarang bersedih. "Kata pak Guru aku ngga boleh sedih, kalo sedih nanti bodo lagi", ucapnya polos. Dari sini, masih bisa sombongkah kita bahwa mahasiswau adalah makhluk paling pintar dan paling baik moralnya? Mari belajar dari sekitar, termasuk dia :)

By : Intan putri purnama ningrum
jumat, 20-06-2014

Labels: ,

KISAH Gibran Huzaifah ITB'07 CEO Cybreed

Bisnis rada niat pertama saya waktu di tingkat dua, sekitar taun 2009. Waktu itu saya start bisnis ternak cacing. Bisnis ternak cacing ini ajaib, karena modalnya dikit, efisiensi tinggi, dan harga jual bagus. Jadi modalnya cuma sampah organik yang disimpan di wadah campuran tanah dan cacing. 60% dari sampah itu dikonversi jadi pupuk, dan 40% sisanya jadi biomassa cacing. Dua-duanya bisa dijual. Pupuk dijual harganya 1000 sampai 2000 per kg, sedangkan cacingnya Rp 125.000/kg, lebih mahal dari daging sapi. Bahkan, waktu itu dapat permintaan dari Malaysia dalam bentuk kering, harganya Rp 1.000.000/kg. Edun lah.

Cacing makannya sampah organik, sisa rumah tangga atau pasar. Biar produksinya cepet, sisa sampah ini harus diperhalus biar gampang dicerna. Jadi kerjaan saya dulu adalah ke rumah makan sekitar ITB dan pasar balubur buat ngumpulin sampah, ngeblenderin satu-satu itu sampah, terus nyuapin ke cacing di tempat produksi sekitar pelesiran. Kitu weh terus. Tanahnya juga harus dijaga kelembabannya, disemprotin rutin tiap jam. Leuwih riweuh ti ngurus pacar. Tapi alhamdulillah berjalan. Produksi jalan, jualan lancar, cacing pun senang.

Tapi da namanya pengusaha pemula, kemakan jargon "Bisnis jalan, kitanya jalan-jalan". Apalagi kerjaannya asa nggak elite, ya ngumpulin sampah sisa sama ngasih makan cacing, aduh asa teu bisa update status gaul di twitter. Akhirnya terburu-buru lah rekrut karyawan, tanpa sistem udah dibangun dengan jelas, tanpa SOP yang bisa terkontrol, tanpa KPI yang udah di-set, dan tanpa pola manajemen karyawan dan pemasaran yang jelas. Lebih dari itu, tanpa semangat membangun bisnis dan terus belajar. Tujuannya biar bisa gaya dan jalan-jalan. Merasa udah finish, padahal belum lama start.

Nggak sampai 1 bulan, muncul lah masalah. Pas di kelas lagi kuliah, saya ditilpun Pak RT yang punya tempat saya produksi Pak RT ini marah-marah minta saya segera ke kontrakan. Saya bingung. Karena panik, langsung lah buru-buru datang. Sesampainya disana, ternyata depan kontrakan saya penuh sama orang se-RT. Asa mau ada penghakiman massal. Saya deg-degan, jangan-jangan disangka maling celana dalam Pak RT. Pak RT langsung nyamperin sambil melotot:

"KAMU INI PAKAI APA DI KONTRAKAN SAYA!", kata Pak RT marah-marah

"Cuma buat produksi aja kok, Pak"

"SERIUS KAMU! SAYA TELPON POLISI YA! KAMU PASTI NYIMPEN MAYAT DISINI!"

"Hah, nggak lah Pak!", jawab saya kaget sambil pucat muka.

Ternyata saya dikira ngebunuh orang atau nyimpen mayat bayi orok hasil hubungan gelap. Edan teuing. Udah mau dikeroyok ini mah euy. Untuk menenangkan warga, saya memutuskan untuk mengajak semuanya kayang. Nggak ding. Saya langsung buka pintu. Ternyata eh ternyata, ADA MAYAT WANITA! Nggak lagi ding. Ternyata karyawan saya kabur, cacing nggak ada yang ngurus, sampah membusuk. Yang tadinya ternak cacing malah jadi ternak belatung. Itu baunya emang kaya mayat. Pusing lah saya, belatung dimana-mana. Warga protes, Pak RT protes, besoknya saya digusur dari kontrakan. Karyawan kabur, permintaan keputus, pelanggan kabur, dan uang pun kabur. Bangkrut lah bisnisnya. Pedih.

Di kondisi ini, dulu saya nyalahin karyawan yang nggak bertanggung jawab. Tapi itu salah, karena yang sebenernya salah ya ownernya, saya sendiri. Salah sendiri ngerekrut karyawan asal-asalan, salah sendiri nggak bikin SOP yang jelas, salah sendiri nggak ngontrol dengan rutin, salah sendiri bisnis asal dilepas. Salah sendiri.

Nah, yang saya lihat, banyak juga pebisnis muda yang begini. Sembrono buru-buru melepas bisnis tanpa membangun sistem dan belajar terus-menerus. Owner ini terlalu gengsi karena iming-iming motivator tentang kerennya jadi pebisnis. Padahal, selevel CT pun dulu bolak-balik ngangkut kertas fotokopian saat berbisnis fotocopy, sebelum sekarang jadi owner Bank Mega dan Transmedia Group. Djoko Susanto dulunya juga ngangkut barang di toko kelontong, sebelum sekarang jadi owner Alfamart. Sudono Salim dulunya adalah kuli kopra di pelabuhan, sebelum punya BCA dan Indofood. Membangun bisnis meniscayakan kerja keras dan persistensi, yang berkolaborasi dengan kejelian melihat peluang dan keinginan terus berkembang.

Saya jadi ingat yang Pak Budi Isman bilang waktu di Ciater lalu, "bisnis itu refleksi ownernya, saat ownernya berhenti belajar, maka di saat itu juga bisnisnya berhenti berkembang". Indonesia diisi lebih dari 55 juta bisnis kecil dan mikro, yang sayangnya selalu jadi kecil dan mikro. Yang membedakan bisnis kecil yang kini meraksasa adalah orang-orang dibaliknya, yang tidak pernah berhenti untuk terus belajar, berjuang, dan berkembang. Mari terus naik kelas.

Sekalian mohon maaf lahir batin, biar naik kelas juga di bulan Ramadhan dan setelahnya. Salam sayang.

Gibran Huzaifah ITB'07 CEO Cybreed

➖➖➖➖➖➖➖➖
Gabung grup whatsapp Pengusaha Kampus? SMS 085697494916

Labels: ,